Kalimantan Barat

PWK Menyoroti Aktifitas PETI Kembali Marak di Desa Penjawaan, Kemana APH dan Siapa yang Bertanggung Jawab..???

3
×

PWK Menyoroti Aktifitas PETI Kembali Marak di Desa Penjawaan, Kemana APH dan Siapa yang Bertanggung Jawab..???

Sebarkan artikel ini

teras-nusantara.com. Ketapang, Kalimantan Barat. Kembali marak aktifitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) menggunakan JEK (Ponton) di Aliran Sungai Sungai Pawan, Dusun Tobak dan Dusun Kuala Laur Desa Penjawaan, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Hal ini menjadi pertanyaan elemen. masyarakat,”Siapa Yang Bertanggung Jawab”..??? atas kembali maraknya aktifitas PETI menggunakan JEK (Ponton) di aliran sungai pawan tersebut.

Padahal beberapa bulan lalu, jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Sandai Polres Ketapang, memasang baleho himbauan tentang larangan aktifitas PETI di Aliran Sungai Pawan Desa Penjawaan. Namun baleho tersebut sudah tidak terpasang lagi.

Muncul pertanyaan besar elemen masyarakat, apakah Polsek Sandai dan Polres Ketapang Polda Kalbar, “Tutup Mata” melihat aktifitas PETI kembali marak di Desa Penjawaan, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang.

Berdasarkan pantauan awak media dilokasi aliran Sungai Pawan di Dusun Tobak dan Dusun Kuala Laur Desa Penjawaan, pada Selasa (27/10/2026).

Nampak terlihat beberapa buah Ponton bahkan puluhan sedang beraktifitas penambangan emas tanpa rasa takut ke aparat penegak hukum.

Menurut informasi yang dihimpun awak media, ada bidang kordinator yang memungut setoran setiap satu unit Ponton (JEK) satu minggu dikenakan jutaan rupiah, bahkan ada bidang kordinator untuk awak jurnalis.

Bahkan elemen masyarakat mengakui kegiatan PETI dialiaran Sungai Pawan itu ilegal dan berdampak dengan lingkungan. Akan tetapi satu sisi dengan adanya kegiatan tersebut, dapat membantu pembangunan di Desa Penjawaan.

Beberapa elemen masyarakat, berharap kepada aparat penegak hukum, kalau mau menertibkan para pekerja PETI jangan dipekerjanya.

Melainkan Pemodal atau Big Bos Pembeli Emas hasil dari pekerja PETI tersebut. Jika tidak ada yang menampung dan pemodal para pekerja PETI tidak akan melakukan pekerjaan penambangan di aliran Sungai Pawan.

Selain Big Bos Pembeli Emas hasil dari para pekerja PETI, ada Big Bos yang menyediakan BBM Jenis Solar untuk operasional Ponton (JEK). Muncul dugaan Solar yang digunakan jenis Solar Subsidi yang dipasok dari “MAFIA BBM Subsidi”.

Ini elemen masyarakat menunggu aparat penegak hukum dari Kepolisian, TNI. Untuk menindak tegas para Big Bos Pembeli Emas hasil dari para pekerja PETI, jangan hukum terkesan “Hukum Tajam ke Bawah, dan Hukum Tumpul ke Atas”.

Menanggapi carut-marut ini, Ketua Persatuan Wartawan Kalbar (PWK), Verry Liem, melontarkan kritik keras dan kecaman telak terhadap lambannya respons aparat serta keterlibatan oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mencatut profesi jurnalis.

Verry menegaskan, aktivitas PETI ini jelas-jelas meresahkan masyarakat luas, khususnya para nelayan sungai dan warga sekitar yang menggantungkan kebutuhan air bersih sehari-hari pada aliran Sungai Pawan.

Ia juga menyatakan rasa geramnya terhadap oknum yang sengaja berlindung di balik profesi media untuk melanggengkan kejahatan lingkungan. Menurutnya, perilaku kotor tersebut merusak muruah, citra, dan integritas jurnalis profesional yang bekerja berlandaskan kode etik.

“Seharusnya media bersifat independen dan berdiri di garda terdepan untuk membongkar kejahatan, bukan malah menjadi bagian atau pelindung dari sindikat PETI tersebut. Informasi yang saya terima, oknum-oknum ini sengaja dipelihara untuk mengkondisikan dan membungkam teman-teman pers di lapangan,” tegas Verry Liem dengan nada geram.

Lebih lanjut, Verry mendesak Polsek Sandai agar tidak sekadar melempar tanggung jawab lewat pemasangan spanduk atau baliho seremonial tanpa penindakan hukum yang konkret.

“Jika hal ini terus dibiarkan tanpa tindakan tegas, publik sangat wajar menduga telah terjadi ‘permainan mata’ dan konspirasi busuk antara pelaku PETI dengan oknum APH. Ini bukan lagi rahasia umum; setoran liar yang mengalir deras ke meja oknum tentu menjadi alasan utama mengapa APH memilih tidur pulas di atas penderitaan rakyat,” pungkasnya tajam.

Hingga berita ini diterbitkan belum ada keterangan resmi dari Jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Sandai dan Kepolisian Resort (Polres) Ketapang, terkait kembali marak para pekerja PETI di Aliran Sungai Pawan Desa Penjawaan, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang.

Penulis : EZ 113      Editor : Tya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *