JAKARTA – Tragedi yang menimpa tiga pekerja yang tewas di dalam saluran air (gorong-gorong) di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) memang menjadi sorotan mendalam. Aktivis Kaukus Muda Anti Korupsi (KAMAKSI) meminta semua pihak menunjukkan empati yang tentunya sangat krusial dalam situasi berduka seperti ini, bukan malah mengeluarkan pernyataan yang provokatif tanpa memahami substansi masalah.
Ketua Umum Kaukus Muda Anti Korupsi (KAMAKSI) Joko Priyoski mengatakan, “dalam kasus kecelakaan kerja fatal seperti ini, ada beberapa poin penting yang menjadi fokus perhatian yaitu kemanusiaan, duka dan penghormatan kepada korban serta keluarga yang ditinggalkan. Pernyataan yang menyudutkan atau berspekulasi tanpa data hanya akan menambah beban psikologis keluarga korban,” imbuhnya.
Transparansi dan investigasi objektif dibutuhkan untuk melakukan penyelidikan menyeluruh dari pihak berwenang untuk mengetahui penyebab pasti kejadian, apakah karena keracunan gas berbahaya, kurangnya alat pelindung diri (APD), atau kelalaian standar operasional prosedur (SOP), serta Evaluasi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Kasus ini menjadi alarm keras bagi para kontraktor dan pengelola kawasan untuk memperketat pengawasan ruang terbatas (confined space), yang memang memiliki risiko tinggi. Kami mendesak PT Moya Indonesia bertanggung jawab penuh atas insiden yang merenggut nyawa para pekerja tersebut dan melakukan evaluasi menyeluruh terutama menjaga keselamatan para pekerja dan mematuhi UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan UU No. 11 tentang Cipta Kerja.
“Kami juga meminta Said Iqbal Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan tidak melontarkan pernyataan provokatif yang menyudutkan PAM JAYA sebelum dilakukan investigasi menyeluruh. Sebagai Penasihat Khusus Presiden seharusnya Said Iqbal bijak menjaga citra pemerintah, terutama melakukan pembenahan sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Semua pihak hendaknya menahan diri tidak mengeluarkan pernyataan reaksioner dan provokatif yang bisa memperkeruh situasi,” pungkas Jojo sapaan akrab Joko Priyoski.(*)












